Ngapain Sih, Masih Aja Ngurusin Tambora? (Part 1)
By aghnia mega safira - December 06, 2018
INA RYAN
“Ibu tuh mikirin anak-anak disini, meg. Masa mau bodo terus. Masa mau gak bisa baca terus.”
“D memang udah nggak sekolah disini. Tapi kan Ibu mau cari akal supaya anak-anak disini belajar. Kalau orangtuanya, baca aja mereka nggak bisa, Mega….”
Ada beberapa hal yang gue pertanyakan minggu ini (harusnya post ini naik hari minggu haha maap). Bisa jadi penting, bisa jadi enggak. Tapi kesel. Tapi here we go, karena katanya kalau semua tanya udah ada jawabnya sih bukan hidup namanya (haha)
Kasus Baiq Nuril
Gue akan jabarkan kasusnya dulu sesingkat gue bisa, sebagai background:
(btw ini based on cerita beliau di Mata Najwa Rabu 21/11 kemaren ya)
- Baiq Nuril ini guru honorer SMA di Lombok. Selain ngajar, doi juga membantu Kepsek di bidang administrasi sekolah sesuatu gt (maap gue lupa).
- Singkat cerita, dia sering dipanggil ke kantor kepsek. Kesaksiannya, cuma 2 menit ngomongin kerjaan. Sisanya, si kepsek cerita soal dia berhubungan seks dengan orang yang bukan istrinya. Ini terjadi berulang-ulang, bahkan di telepon juga.
- Nuril gerah, lebih karena untuk pembelaan diri, direkamlah percakapan ini.
- Temen-temen Nuril di sekolah ini bete ama kepsek (gue lupa karena apa), terus mereka cari-cari kelemahan kepsek. Entah gimana ceritanya, mereka tau Nuril punya rekaman si kepsek lagi sexual abusing. Diminta lah rekaman ini. Nuril gak mau, dipaksa, dan akhirnya mereka dapet. Inilah awal mula rekamannya tersebar.
- Nuril didakwa UU ITE karena penyebaran rekaman telepon berbau asusila.
Tapi ngobrol sama adek gue @sarwdy si anak hukum, ya emang gitu. Kenapa? Karena ini ngomongin UU ITE. Jadi ya ini substansi kasusnya adalah gimana Nuril emang somehow terlibat dalam penyebaran rekaman ini, dan diproses berdasarkan UU ITE.
Lah kampring. Terus gimana, dia kan korban? Ya balas lapor, berdasarkan UU Pelecehan Seksual / Perbuatan tidak menyenangkan / UU lain yang mendukung. Jadi intinya kasus ITE emang harus dilanjut, tapi buka kasus baru yang soal pelecehan seksual, dimana yang jadi substansi: pelecehan seksualnya. bukan penyebaran rekamannya.
YANG JADI TANDA TANYA BUAT GUE: (maap nih emosi)
NURIL GAK MAU BALAS LAPOR. KENAPAAA? ini kutipan pengacaranya:
(Kata Bu Nuril) Pak kalau saya laporkan pak muslim, bagaimana dengan anak dan istrinya, yang sekarang sudah menerima hukuman sosial yang luar biasa?
Joko Jumadi
Kuasa hukum Baiq Nuril
Itu adalah rasa kemanusiaan yang luar biasa dari Bu Nuril, untuk tidak mau melaporkan kembali Pak Muslim.
Joko Jumadi
Kuasa hukum Baiq Nuril
Lah…. Paham gak lo?
Btw Bu Nuril ini udah pernah dipenjara berapa bulan gitu karena kasus ini. Dan… si Ibu ini tuh sebaik itu…
kayaknya ini yang waktu itu pernah gue perdebatkan sama salah satu senior gue maha baik hati @dhimasl dulu banget. Gue kan anaknya dulu kayak: “Kalo lo baik sama gue, gue akan 1000x lebih baik. Kalo lo jahat, gue akan 1000x lebih jahat.”
Si temen gue ini lalu tanya, kenapa gak baik aja, Meg, sama semua orang?
Si temen gue ini lalu tanya, kenapa gak baik aja, Meg, sama semua orang?
Disitu gue mikir sih. Gue gak bilang gue yang sekarang udah bisa baik sama semua orang termasuk yang jahatin gue, tapi kayaknya gue sekarang lebih mikir aja sih. Gak sereaktif dulu. Gak buang-buang energi yang ga perlu seperti dulu jaman muda~ hahahah
Nah gue ga paham sih asli, apakah yang dilakukan Bu Nuril ini adalah kebaikan hati atau gimana. Tapi kan ini negara hukum, dan si hukum berupa UU ITE aja tuh udah ngegituin diaaaaa, gemas! Tapi on the other side, gue yakin banget Bu Nuril udah menimbang ini itu yang terbaik. Mungkin dia lelah juga sama proses hukum berlarut-larut, who knows.
Gue masih belom bisa dapet pelajaran dari kasus ini, karena masih belom masuk aja di akal gue huhu mungkin gue emang kurang baik hati :’)) Mungkin ada yang bisa kasih gue pencerahan?
Yang jelas, gue berdoa bu Nuril dan keluarganya mendapatkan keadilan yang terbaik. Aamiin.
Tanda Tanya Minggu Ini #1: (Lagi-lagi) Kampanye Politik
By aghnia mega safira - November 26, 2018
Partai Buatan Bowo, politik pasar, sontoloyo, dll. Wah udah males banget sih sebenernya ngomonginnya tapi gimana :(
Mengutip seorang professor yang pagi ini gue tonton di Kompas TV, (gue lagi-lagi lupa kutipan tepatnya, intinya adalah:
Yok kita hentikan blunder-blunder istilah. Kita mulai blunder-blunder program.
Mengutip seorang professor yang pagi ini gue tonton di Kompas TV, (gue lagi-lagi lupa kutipan tepatnya, intinya adalah:
Yok kita hentikan blunder-blunder istilah. Kita mulai blunder-blunder program.
Udahan yoook ngomongin isu-isu yang permukaan dan ga sampe ke substansinya. Gue pernah ngoceh puanjang banget di IG Story soal gimana politisasi IMF-WB Annual Meeting di Bali, Oktober lalu. Intinya adalah:
(kalo terlalu kepo, bisa cek story lengkapnya di highlight IG gue: AM 2018 Bali)
Menanggapi saling blunder istilah kedua capres, bapak professor di Kompas TV tadi juga bilang: ini hal biasa di dunia marketing. Satu jadi market leader, yang lainnya bakal follow. Dia ga nyebutin sih siapa yang market leader dan siapa yang follow, tapi pemikiran pertama gue, kalo market leadernya gak oke, ngapain diikutin? hiks.
Tapi apakah mungkin ini semua karena kita rakyat Indonesia emang doyannya sensasional doang? Jadi girang dikasih blunder-bluncer istilah, sementara ngomongin program, visi misi, logika, dll malah belom tentu laku?
Gue pun gak tau. Tapi gue gak mau sih kayak gitu :(
At least buat diri sendiri, sepertinya pilpres ini belom-belom udah mengajarkan satu hal baik: gak emosian, gak termakan blunder, dan melihat sesuatu secara substansional.
Ralph Break The Internet: Film Kartun Mid-Life Crisis
By aghnia mega safira - November 24, 2018
Malem ini gue, A, dan adik gue si Sarah nonton Ralph Break The Internet, sekuel dari film Wreck it Ralph. Seperti film pertamanya, film kartun ini masih mempersembahkan cerita yang menurut gue pas banget untuk ditonton orang dewasa.
Intinya sih tentang gimana persahabatan selalu ada, meskipun kita memutuskan untuk berubah demi mengejar mimpi/passion/apapun.
Pesan ini keren dan tersampaikan cukup kuat, tapi gue justru tertarik dengan sisi lain dari cerita ini: menemukan passion.
A send me this earlier. I think this pic worth a blogpost because I thank God everyday that it is happen in our real life.
What is the hardest thing to say?
Some would say it is ‘Thank You’. Other would say it is “I Love You’. Or “Would You Marry Me?”
I think, it is ‘Sorry’.
The hardest part of letting go is the moment right before we’re doing it. At that moment, we already know by heart that we let this go, but we didn’t do it yet.
Why would we let go? Or should I say… Why should?
The cheesy answer: I don’t know, but sometimes we should do what we should do, right?
The logic answer: We designed and built as a person with certain capacity. I think our life is also have it’s limit. That’s why, we know the very concept of priority.
Couple weeks ago, I turned down a very great job offer. That was one of a job of my dream. They offers to do what’s I really passionate about (strategies, writing, presentation, communication stuff), space to explore (not technical work with SOP), GREAT salary, great opportunity, foreign bosses (I always excited to work with people form different culture, I enjoy learning and improving my english, and I love the work style where people are individual but helpful), strategic office place, 9-5 strict work hour, some business trip (yes I ALWAYS love to travel).
The reason is... with his job now, A can be easily moved to another place at every time. The offer I’ve got require me to stay at least couple years in Jakarta. “We are looking for someone who is not likely to move away once they really start to get good at their job” is exactly what they said. I know right away I have my choice already.
Even though we already decided to stay together, A asked me to rethinking my decision. He gave me the freedom, he even offered some of alternative plan if I decide to take the job. We talked, and finally I decided to turn down this offer.
This IS a heartbreaking moment for me. Always be an ambitious kid behind, with a certain childhood circumstances, my reflect is to make myself survive. I used to fight my own battle.
But when I look back, I realize what kind of person I’ve became. This last 16 months, I grew a lot. I am not happy with some of my attitude back then, but I am happy now that I know it, and I’m on my way working to be the better version of my self.
I am not lying when I’m telling that yes, marriage close some doors for me. But as those classic proverb said, when a door is closed, there will be another opens. If not because of all the circumstances, I won’t be near what I've became today.
“MEGA. HARUS DIPAKSA.” // “Lo tuh suka mikir, tau.”
I got this kind of expression A LOT. First sentence is about my procrastination habits. The second one is about my overthinking habit.
Apa rasanya kerja frelance?
Di minggu pertama, masih bersemangat banget ngutak atik rumah, masang pigura, bersih-bersih, ini itu.
Di minggu kedua ketiga, asli bener-bener clueless sih, gak tau mau ngapain. Secara belom pinter cari job juga.
Di minggu keempat, gue mulai overwhelmed. Ngantor sih enggak. Berangkat pagi juga kadang-kadang doang kalau ada panggilan. Tapi sekalinya berangkat, sampe rumah di atas jam 10 malam sih jadi udah pasti. Abis itu, sampe rumah masih lanjut kerjaan lain? Oh tentu saja sudah biasa~
Di minggu pertama, masih bersemangat banget ngutak atik rumah, masang pigura, bersih-bersih, ini itu.
Di minggu kedua ketiga, asli bener-bener clueless sih, gak tau mau ngapain. Secara belom pinter cari job juga.
Di minggu keempat, gue mulai overwhelmed. Ngantor sih enggak. Berangkat pagi juga kadang-kadang doang kalau ada panggilan. Tapi sekalinya berangkat, sampe rumah di atas jam 10 malam sih jadi udah pasti. Abis itu, sampe rumah masih lanjut kerjaan lain? Oh tentu saja sudah biasa~
Urun sikap banget nih judulnya?
Temen-temen pernah denger gerakan #TumpukDiTengah nggak? Itu loh, yang beberapa waktu ini lumayan viral di instagram. Jadi intinya, gerakan ini mengajak kita membereskan bekas piring makan kita, kemudia menumpuknya di tengah meja saat di restoran. Dengan begini, si pelayan cuma tinggal angkut aja, ga beresin piring di meja lagi.
Gerakan ini menyimpan banyak maksud ga sih? Yang udah jelas kan membantu pekerjaan pelayan, tapi di balik itu sebetulnya kita juga menghargai pekerjaan dia karena mau ‘mengambil’ sebagian kerjaan dia dan kita kerjain. Ini jelas oke sih, karena di negara kita kadang-kadang pelayan dianggap sebagai nomer 2 ga sih? Disuruh-suruh, ga pake makasih pula.
Sebenernya tuh saya lagi lagi gemes banget sekaligus lagi sering banget kepentok diingetin untuk menghargai orang lain. Kenapa judulnya urun sikap, emang karena berasa lagi sering banget diingetin kalo emang harus bersikap riil dan nyata, ga cuma ngomong saya menghargai orang, saya menghargai orang, tapi gimana mengimplementasikannya dalam sikap nyata. Hiks.
Saya baru-baru ini mendaftar untuk ikut kegiatan kerelawanan menyelenggarakan seminar gratis buat guru-guru di daerah gitu. Kebetulan, saya dulu pernah membantu acara ini saat menjadi Pengajar Muda di Bima. Praktis, saya kenal dengan beberapa panitianya, termasuk koordinator divisi yang saya incar untuk saya daftar.
Ketika mengakses formulir pendaftaran, saya liat pertanyaannya ada 44 aja dooong. Itu data diri dan mungkin ada sekitar 10 atau sekitar itu yang isinya essay panjang-panjang. Maaak! Saya berkali-kali nyambi ngisi di KRL dan di perjalanan, tapi ga kelar-kelar. Akhirnya malam ini saya duduk manis di depan laptop dan mengisi essay-essay itu dengan serius.
Gak berapa lama setelah saya selesai isi formulir dan klik submit, saya dikirimi pesan whatsapp sama salah satu panitia yang berpengaruh. Intinya dia mengkonfirmasi apa benar saya daftar, dan saya mengiyakan. Dia berkata ia senang, dan saya ga tau dia bercanda apa engga, dia bilang “Ah elo mah tulis nama juga langsung masuk.” Tanpa bermaksud pamer, saya ga kaget sih sebetulnya dengan pertanyaan dia. Beberapa bulan lalu saya juga udah ngobrol sama panitia lain dan berkata mereka akan senang kalau saya gabung. Lalu kenapa saya memilih mengisi essay-essay panjang itu dengan serius? Simpel, karena saya ingin menghargai proses. Karena saya ingin menghargai si panitia-panitia itu.
Saya masih belajar banget nih untuk urusan menghargai-menghargai ini. Salah satu yang sering bikin saya (dan mungkin teman-teman yang setujuuuuu!) emosi adalah soal memotong antrian. Dengan memotong antrian, itu berarti ga menghargai orang-orang yang udah ngantri ya nggak siih? Dengan diam aja saat antrian kita dipotong, itu berarti kita membiarkan ada sesuatu yang salah terjadi di depan mata kita gitu ga siiiiih?
Saya tentu termasuk orang yang bakal seprotes itu kalo antrian saya dipotong. Tapi, yang harus saya perbaiki kayaknya gimana menyampaikan protes itu dengan ga emosional, ga ekspresif, dan lebih halus. Tapi pokoknya ketidakadilan ini harus diselesaikan! Smangat!
Mendengarkan sambil kontrol biar ga motong pembicaraan dan kontrol ekspresi saat omongan si pembicara yang ngomong sama kita udah ga sesuai dengan kita (susah!); Ga nunda bales whatsapp pas lagi bisa pegang HP (bales WA ga bisa tapi scrolling IG lancar. Loh apa itu saya doang? Hahaha); Bilang “MAKASIH” dan “TOLONG” ke mas-mba pelayan dimanapun atau ke siapapun sih ga harus mba mas pelayan aja hahaha; Kalo ada butuh dan harus whatsapp orang minta tolong, basa basi yang bagus dulu biar bikin orangnya nyaman; kayaknya adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan deh untuk menghargai orang lain. Intinya, small things matter!
Caution: this post might be bore you but helps me reflect a lot about my self so if you wanna give this a try, why don't you read the points first? Therefore if you don't interesting you could just left in a bit! :)
Dulu, saya pernah direkomendasiin kak Lisa untuk nonton TED Show dari kolumnis NY Times David Brooks yang ngomongin tentang eulogy portfolio. Intinya sih kata om David, dalam hidup ini biasa banget bagi kita buat nyiapin CV, portfolio untuk cari kerja, cari proyek, dan cari-cari yang lain yang sifatnya duniawi. Tapi pernah ga sih kita siapin CV, portfolio, yang sifatnya ragawi? (Yah doi sih ga bilang ragawi tapi kata-kata dia sih nyiapin eulogy alias di barat sana kan saat ada yang meninggal akan dibacakan kenangan-kenangan selama si orang yang meninggal itu hidup. Nah mau dikenang sebagai orang yang cuek, baik, perhatian, positif, or pesimistis or orang kayak apa kah kita?)
Meski budaya di tanah air beta ini ga mengenal eulogy, tapi dapet ga sih poinnya? Kita (paling engga akyu sih) suka secara sadar dan niat bikin target-target. Target pencapaian finansial, pencapaian karir, pencapaian eksistensi diri, pencapaian sosial, de el el. Tapi kadang-kadang suka lupa kalo pencapaian ragawi (ciee ragawi) juga kayaknya penting deh direncanakan secara sadar.
Oleh karena itu, mengikuti semangat om David, kalo tiap awal taun baru kita bikin resolusi taunan, lebaran ini saya juga mau bikin resolusi hari lebaran! Kalo resolusi taunan biasanya tentang pencapaian duniawi yang bisa diukur, kayaknya seru (dan berfaedah kayaknya) kalo melakukan hal yang sama buat resolusi lebaran ini.
So here we go, my lebaran resolution and where I got the reflection from:
- I will learn from others. I will not judge others easily, I will not questioning somebody without thinking.
- I will erase those kind of question and judgement not only from my mouth but also my mind (ga cuma berusaha menghentikan mulut yang sering offside ini, saya juga pengen coba mengatur kata hati huhu)
- I will cover both sides in thinking. I won't be fanatic or extreme or anti extreme or anti fanatic (jadi gemini yang lebih sabar dan menahan diri untuk mikir kalo mau ekspresif)
- Ngefans sama perbuatan, bukan sama sosok (kecuali sama Nabi Muhammad dan sama suami kali ya hahaha)
- Memaafkan
Menulis postingan ini membantu saya berefleksi kayaknya emang ini deh selama ini sifat-sifat negatif saya huhu. Mudah-mudahan perlahan-lahan bisa dikurangi bersamaan dengan semangat lebaran. Bismillah!
Mudah-mudahan momen lebaran teman-teman semua hangat dan penuh berkah yah! Untuk yang sudah kembali ke rutinitas, mengutip ceramah Ustad Erick Yusuf, ada pesan bagus:
"Kalo lebaran, bukan cuma bajunya yang baru, tapi hatinya yang baru."
Selamat menempuh hidup pasca lebaran dengan hati yang baru! :)
"Kalo lebaran, bukan cuma bajunya yang baru, tapi hatinya yang baru."
Selamat menempuh hidup pasca lebaran dengan hati yang baru! :)
Iya, judulnya emang agak-agak abstrak. Seabstrak blog ini yang updatenya se-timbul-tenggelam itu, seabstrak blog ini yang terakhir update mayan rutin adalah dua taun lalu.
Hmm dua taun. Lantas kemana aja, bu, dua taun ini? Apa nggak ada hal-hal menarik di kehidupan ibu yang worth diceritain di blog?
Yaaah pasca pulang jadi Pengajar Muda di Bima, kehidupan nyata emang bak roller coaster yaaa. Ada yang emang flat aja, ada yang se-worth it itu sampe rasanya mau disimpen sendiri aja dan nggak mau ditulis di blog hihihi. Intinya sih banyak alesan. Intinya sih ga jago aja ngatur waktu (dan ngatur hidup)
Lalu kenapa sekarang tiba2 ngeblog? Apa sudah jago ngatur hidup?
Engng. Ga juga sih. Tapi, di usia 25 lewat enam hari ini, saya alhamdulillah super bersyukur karena dikasih jalan untuk mengambil keputusan yang lumayan besar:
berhenti ngantor.
(Society commentators mode on:" What? Berhenti ngantor? Ooh mau program ya? Mau cepet punya anak ya? Mau full-time jadi ibu rumah tangga ya?"(Emang kalo ngantor, bukan full-time ibu rumah tang? Ahhh kemarahan akan stigma seperti ini rasanya bisa jadi 1 post sendiri ya hahaha))
Sudahlah kita teguh saja menghadapi kehidupan dan segala komentar ini, karena di mata netijen yang sempurna hanyalah instastory. Balik ke alesan kenapa ngeblog, iya, saya sekarang berhenti ngantor dan fokus kerja dari rumah.
Kerja apa? Mostly bisa didefinisikan dalam dua kata: memanggang dan menulis.
Iyaaa, saya usaha kecil-kecilan jualan brownies, baru mulai seminggu terakhir aja dan lalu libur lebaran karena mudik. Laku? Alhamdulillah, pokoknya baking nya bikin pegel dan kaki berasa toklek kayak pertama kali jalan ke SDN Tambora pas jadi Pengajar Muda deh. Bangun bangun kram. (Atau dakunya aja yang lemah ga pernah gerak? Hihi)
(Society commentators mode on: "ooh kerja di rumah, malah enak ya, ga capek kan daripada ngantor?" Jawab dengan senyuman aja gaes sambil inget dulu pas ngantor paling pol berdiri kesana kemari pas training yang ada nya ga sebulan sekali dimana selain itu duduk manis di ruang meeting atau depan PC)
Menulis? Emang penulis? Hihi saya sejak beberapa bulan ini memang freelance menulis komunikasi strategi buat kepentingan branding bareng sama agency-agency komunikasi. Jadi kalo ga baking atau nyolong-nyolong bobok siang, saya dipastikan di depan laptop.
(Society commentators mode on: "Waaah enak yaa, kerja freelance waktunya fleksibel kan!" Sekali lagi, senyumin aja gaes, ya masa mau cerita kadang-kadang revisi dateng pas lagi ngedate sama pak suami terus sepanjang perjalanan pulang ngerjain revisian pake HP? Masa mau diceritain bos freelance akyu yang juga ga jadi nonton gara-gara kejar deadline revisian yang sama? Sekali lagi, senyumin ajaaaah :))
Jadi, hidup aman lah ya udah ada kerjaan? Yah, namanya aman sih yang sekarang punya kerjaan tetap juga kalo Yang Di Atas udah bilang kunfayakun, apa sih yang ga bisa diambil?
(Terjemahan: ehmmmm ya punya proyek nulis sih sampe beberapa waktu ke depan tau abis itu bismillahirrahmanirrahim aja :" dan jualan browniesnya juga insya Allah sih tapi kalo ga lebaran juga gatau serame apahahahaha)
Intinya: bismillah :" dan kalo ada proyekan nulis, atau fasilitasi, atau ngajar esde, atau mau pesen brownies, jangan lupa kontak akyu ya :'))
Ohya, nawaitu lainnya adalah mau lebih fokus ngerjain si anak angkat kesayangan dan rumah belajar kaki Gunung Tambora. Aamiin.
Dan tentu saja: ngeblog. Supaya kalo nanti mudah-mudahan dipercaya dititipin anak sama Yang Di Atas, bisa keliatan trek hidup ibunya (yang mudah-mudahan ga ngaco-ngaco banget ini). Aamiin!
Jadi, welcoming back the blog to my life, mudah-mudahan konsisten!
Nb: kalo ada yang pengen tau (engga ada juga gapapa hahaha), saya hepi nggak dengan keputusan ini, alhamdulillah galau 4 bulan dilema resign-engga-resign-engga ini berakhir bahagia sampai detik ini sih ya. Mudah-mudahan sampai seterusnya! Ada aamiin? Aamiin)
Credential
Copywriting and Strategic Planning
Journalistic Works
RBTH Indonesia
Voice Over
VO Campaign
Social Project
Open Trip - Liputan oleh Loket.com
Meraih Mimpi Muksin - Proposal pendidikan
Festival Dongeng - Liputan Jawa Pos
Copywriting and Strategic Planning
Journalistic Works
RBTH Indonesia
Voice Over
VO Campaign
Social Project
Open Trip - Liputan oleh Loket.com
Meraih Mimpi Muksin - Proposal pendidikan
Festival Dongeng - Liputan Jawa Pos
Namanya Muksin. Satu kata itu saja. Sederhana.
Sesederhanan pakaian-pakaian sehari-hari yang dimilikinya. Sesederhana alat-alat sekolah yang ia pakai. Sesederhana lauk makan (tidak selalu tiga kali sehari) yang kadang-kadang hanya nasi dengan air garam.
Aku jadi teringat percakapan kami di tengah perjalanan satu jam kami ke sekolah. Saat itu, ia berkata ingin ikut aku ke Jawa.
“Saya mau ke Jawa karena saya mau sekolah sih Bu. Kalau saya disini, saya pasti op sekolah Bu. Kemarin Bapak bilang, kalau saya sudah selesai SD ini, saya disuruh op sekolah bu. Ndak disuruh saya sekolah lagi. Tapi saya ndak mau bu.”
“Terus kamu bilang nggak sama Bapak, kamu mau terus sekolah?”
“Bilang ni Bu! Tapi bapak diam saja.”
“Kenapa kamu mau sekolah, Sin? Jadi petani aja ni,”
“Nggak mau Bu, saya kan mau jadi Guru.”
“Kenapa mau jadi Guru?
“Supaya kayak Bu Guru. Supaya bisa membagikan ilmu.”
Saat ini, Muksin duduk di kelas VI SDN Tambora, sekolah dimana aku bertugas sebagai Pengajar Muda dalam setahun terakhir. Aktivitas Muksin sepulang sekolah adalah membantu orangtua berladang, mengaji setiap magrib dan subuh (tidak pernah absen kecuali sedang sakit gigi atau mabuk sepulang perjalanan lomba ke Bima bersamaku), dan belajar (kadang membaca sendiri di rumah, lebih sering belajar malam di rumahku).
Kerja keras Muksin dalam belajar perlahan mulai berbuah. Dari yang dulunya mengerjakan garis bilangan masih tertatih, sekarang perkalian belasan kali satuan sudah tangkas tanpa perlu bantuan kertas dan pena. Di kelas, prestasinya juga meningkat drastis. Bulan kemarin, Muksin dua kali menempuh enam jam ke pusat kabupaten (dengan mabuk darat khas anak desa yang perlahan mulai sirna) untuk mengikuti panggilan tes tahap III seleksi beasiswa Smart Ekselensia Indonesia dan Semifinal Olimpiade Sains Kuark. Hapalan surat pendek, menjadi imam, adzan, dan lafaz mengaji, insya Allah terus meningkat. Jangan tanya soal kemampuan interpersonal dan ketulusan membantu, sudah menjadi bakatnya sejak kecil.
Tes beasiswa bergengsi dari salah satu LSM terkenal itu memang ia tidak lolos. Berhenti di psikotes (aku yakin itu hal yang sungguh baru bagi anak desa sepertinya, cerita tentang perjuangan beasiswa bisa dibaca dalam seri Tiga Hari untuk Selamanya di blog ini). Namun, Aku dan teman-teman Pengajar Muda 5 Generasi SDN Tambora, bersama beberapa teman kuliah dan teman-teman kami dari berbagai kalangan dan lingkaran, memiliki niat baik agar Muksin bisa terus bersekolah.
Kami akan membawa Muksin untuk bersekolah di Pondok Pesantren Darut Tholibin, Desa Sukawangi, Kecamatan Singajaya, Garut, Jawa Barat. Muksin akan tinggal bersama orangtua dari salah satu rekan Pengajar Muda yang juga adalah Wakil Kepala Sekolah pesantren tersebut. Alasan kami memilih desa tersebut, juga agar membantu transisi Muksin dengan pengawasan yang ketat. Dari yang tadinya hidup di sudut negeri, kaki Gunung Tambora, ke pulau beribu kesempatan, Pulau Jawa. Harapan kami, saat kelak ia makin matang, ia bisa sekolah atau kuliah di kota besar.
Gambaran kami, kami akan menyisihkan sejumlah uang setiap bulan untuk menghidupi Muksin dan mimpinya. Muksin adalah tabungan masa depan kami, baik tabungan harapan masa depan bangsa yang lebih baik, maupun tabungan akhirat kami, insyaallah.
Saya bercerita tidak secara kaku meminta anda harus berdonasi atau iuran uang setiap bulan, tahun, atau bentuk ‘harus’ lainnya. Ketika anda tahu mengenai Muksin dan terbersit dalam pikiran anda untuk membantu, silakan hubungi saya. Apabila anda ingin detail kebutuhan bulanan dan tahunan Muksin lebih lanjut, silakan mengakses Bit.ly/AnggaranMuksin1603 atau silakan hubungi saya. Ikut iuran uang, atau ingin membantu dalam bentuk lain, jangan ragu untuk hubungi saya.
Bersekolah untuk sebagian anak adalah hal yang sederhana. Untuk Muksin, bersekolah adalah perjuangan besar. Kami memutuskan untuk ambil bagian dalam perjuangan itu.
*) we're currently working on formal proposal. Sementara itu, gambaran kebutuhan anggaran Muksin dapat anda akses di Bit.ly/AnggaranMuksin1603
Don't hesitate to let me know if you need another details :)
Bagaikan hari kemarin, ketika aku melihat purnamaku yang pertama. Malam itu malam bulan puasa. Cuaca sungguh dingin, sebagaimana cuaca biasanya saat musim kemarau di lereng Gunung Tambora. Aku masih gelisah-gundah-tak menentu. Malam itu adalah malam-malam pertamaku hidup di desa. Malam-malam pertamaku ditinggal Pengajar Muda sebelumku. Malam-malam pertamaku jauh dari orang-orang terdekat.
Kemudian aku melihatnya. Purnama yang sesungguhnya. Bukan hanya bulan-bundar menggantung di langit malam sebagaimana aku lihat di kota. Ini adalah terang bulan yang sesungguhnya. Padang bulan, padange kaya lina. (terang bulan, terangnya seperti siang). Aku masih ingat kekagumanku pada terang bulan itu. Terang yang begitu terang. Aku masih ingat bagaimana kagetnya aku melihat bayangan atap rumah di malam hari. Aku masih ingat bagaimana aku heran mencari penyebab dari bayangan itu. Ternyata, itu adalah terang purnama!
Bagaikan purnama pertamaku yang begitu terang dan indah, begitu pula aku mengenal kehidupan lereng Tambora. Aku mengenal anak-anak yang luar biasa cemerlang, polos, namun tak-diketahui keberadaannya dari pusat kota. Aku mengenal bagaimana guru-guru sebetulnya bisa begitu terang, namun sistem dan keadaan sekitar membatasi sinar mereka. Aku mengenal bagaimana warga desa begitu tulus dan tak hitung-hitung memancarkan kehangatan pada kedatanganku.
Bagaikan purnama pertamaku, bulan pertamaku di lereng Gunung Tambora begitu terang dan indah.
Sungguh tak terasa, ini adalah purnama kesembilanku di tanah Bima.
Aku ingat purnama keduaku. Aku telah memberi tahu semua orang dekatku, teman-pacar-keluarga, bahwa purnama disini begitu terang. Bahwa sinar bulan disini begitu hangat, tulus, dan seperti juga semangat orang-orangnya, total tak-terbayangkan. Aku menunggu-nunggu ia datang. Aku begitu bersemangat menunggu-nunggu pancarannya.
Di bulan keduaku, aku bersemangat pula menunggu-nunggu hasil “pekerjaan besar” pertamaku. Di bulan kedua, aku dan guru-guru merancang rapat komite yang sudah menjadi cita-cita empat orang Pengajar Muda pendahuluku.
Meski hasilnya ternyata tidak sesuai bayangan kami, aku bahagia karena aku mulai berteman dengan kehidupan di lereng ini. Sebagaimana masyarakat desa mulai berteman dengan pendidikan. Sebagaimana aku mulai berteman dengan pancaran sinar bulan yang begitu terang.
Hari berganti hari, purnama datang dan pergi. Di purnama keenam, aku menemukan ia ternyata tak selalu benderang. Akhir tahun adalah musim cemberut bagi langit lereng Tambora. Musim hujan datang, mendung tebal menggantung. Purnamaku tidak terlihat. Bulan keenam adalah bulan dimana aku sering diterpa gundah. Banyak hal berjalan ternyata tidak sesuai rencana. Keindahan-keindahan yang tercapai di bulan-bulan awal tiba-tiba dihantam banyak hal tak-terduga.
Namun kemudian aku sadar. Tepatnya, aku disadarkan anak-anakku. Lewat hujan yang menerpa kami setiap pulang sekolah. Bukannya bersungut-sungut, sedih, gelisah, setiap hujan datang mereka akan sibuk bersiap-siap. Bersiap-siap melepas sepatu dan tas. Bersiap-siap meninggalkan buku-buku penting di kelas agar tidak basah. Bersiap-siap memasukkan bawaan lain ke kantong kresek. Bersiap-siap bersahabat dengan hujan. Bersiap-siap untuk bahagia.
“Life is not about waiting the storm to pass. It’s about learn to dancing in the rain.”
Ya, aku belajar berdansa di tengah hujan dari anak-anakku. Aku belajar menyikapi masalahku dengan bahagia. Bahwa semua ini bukan tentang bagaimana masalah-masalah itu ada. Semua ini adalah tentang bagaimana aku menghadapinya.
Oh ya, ternyata purnama keenamku tetap ada. Ia tertutup awan, bukan berarti ia berhenti bersinar, kan? Aku hanya belum melihatnya saja.
Sungguh tak terasa, ini adalah purnama kesembilanku di tanah Bima.
Ia tetap terang. Ia tetap indah. Aku tetap tak bosan-bosan memandangnya. Sebagaimana aku tak bosan mendengarkan celotehan pasukan jagoanku setiap perjalanan berangkat sekolah. Sebagaimana aku tak bosan menonton tingkah mereka di lapangan setiap pagi menunggu guru datang. Sebagimana aku tak bosan tertawa melihat mereka berebutan bercerita setiap aku kembali dari Kota Kabupaten.
Sungguh tak terasa, ini adalah purnama kesembilanku di tanah Bima.
Aku hanya punya tiga purnama lagi. Aku hanya punya tiga bulan lagi. Itu masih dikurangi banyak hari yang harus aku lewati di Kota Kabupaten, demi mengurus berbagai pekerjaan-menjelang-pulang.
Aku hanya punya kurang dari seratus malam lagi untuk melihat banyaknya bintang di langit malam Tambora. Aku hanya punya kurang dari seratus hari lagi untuk melihat terangnya bulan purnama Tambora. Aku tinggal punya beberapa minggu lagi untuk berjalan-satu-jam-setiap-pagi menuju sekolah bersama pasukan jagoanku. Aku tinggal punya beberapa minggu lagi untuk menjawab begitu banyak pertanyaan saat aku mengajar rangkap enam kelas karena tak ada guru lain datang ke sekolah.
Aku tinggal punya sebentar lagi.
Tapi aku yakin.
Meski kelak aku tak bisa lagi bersama pasukan jagoanku, aku yakin mereka akan seperti purnama.
Mereka akan tetap bersinar terang, meski aku tak selalu bisa melihat mereka.
Aku yakin.
"Belum pernah bertemu tapi bisa dengan mudahnya jatuh cinta, mungkin kah?
Tentu saja sangat mungkin. karena saya baru saja mengalaminya. Jatuh cinta itu mudah, membaca surat-surat mereka saja sudah membuat saya cinta! Ya saya jatuh cinta dengan anak-anak gunung Tambora. Keluguan, semangat, kelucuan, serta kebahagiaan mereka tercermin dalam tiap kata yg tertuliskan. Hai adek-adek SDN Tambora, Muksin, Ajar, Ni Luh, Ketut, Sofiyah, Rahmat, dkk salam sayang dari Kak Evi, semoga kita punya kesempatan untuk bertemu jalan2 di kebun kopi dan makan sayur pakis ya. 😊😘
Bu @megsafira jangan lupa disalamin! 😉" -@evieandari
Sahabat Pena.
Kata yang sudah jarang atau bahkan tak pernah lagi terdengar di riuhnya kicauan twitter, notifikasi path, love instagram, atau tanda biru whatsapp.
Kata yang makan waktu, biaya, dan tenaga yang katanya tak sepadan dengan waktu tempuh.
Toh pesannya sama saja.
Toh maknanya sama saja.
Kenapa tidak di-email saja?
Bisa sih di-email. Bisa sih difoto lalu dikirim via whatsapp. Tapi rasanya akan beda.
Semua berawal saat saya mengobrol bersama beberapa teman akan ide 'Kakak Pena'. Teman-teman saya di Jawa mengirim surat untuk anak-anak murid saya di SDN Tambora dan anak-anak akan membalas lewat saya. Balasan pertama telah sampai ke Boyolali, langsung dari SDN Tambora!
Terimakasih kak Evi, telah membuat Boyolali hadir di tengah hutan kopi dan dadap di Kaki Gunung Tambora.
Terimakasih kak Evi, telah ikut menanam mimpi di ladang kami.
Terimakasih kak Evi, telah ikut jatuh cinta!
Perjalanan Ke Barat (Tiga Hari untuk Selamanya Part III)
By aghnia mega safira - February 27, 2016
Aku selalu suka perjalanan seperti ini. Aku selalu suka perjalanan ke Barat.
Terlebih saat sore seperti ini. Saat senja mulai turun, saat semesta akan segera mengucapkan selamat tinggal pada sang surya.
Terbayang di benak anak-anakku yang sedang bermain di jalan setapak kampung kami. Anak-anakku yang akan tersenyum malu saat melihatku lewat membawa banyak bawaan dari kota kabupaten. Anak-anakku yang akan ribut melambai dan berteriak memanggilku, “Bu Guru!”
Aku selalu suka perjalanan ke Barat.
Terlebih perjalanan yang satu ini. Di sebelahku duduk jagoanku, Muksin. Hari ini ia telah melewati banyak hal.
Hari ini adalah Hari Besar itu.
Hari dimana anak didikku akan menempuh ujian seleksi tes masuk beasiswa.
Hari yang kami persiapkan sejak bermingu-minggu yang lalu.
Sejak hari dimana aku bolak-balik kampung-kota kecamatan melewati medan ‘berbisa’ untuk mengurus berkasnya. Sejak hari-hari dimana Muksin datang berdua ke rumahku bersama Heri adiknya, untuk belajar hingga larut, hingga Heri tertidur di samping kami.
Hari dimana masa depannya dipertaruhkan.
Hari dimana aku melihat ia berkerut serius menghadapi soal, dimana canda dan senyum usilnya tidak nampak.
Hari yang merupakan harapan besar baginya, karena ia akan sekolah di Jawa kalau ia lolos seleksi beasiswa ini.
Ia akan sekolah di Jawa.
Ia akan sekolah.
Aku jadi teringat percakapan kami kemarin dulu. Percakapan kami di tengah perjalanan satu jam kami ke sekolah. Saat anak-anak lain random bertanya kapan aku akan pulang, kapan aku akan kembali lagi sesudah aku pulang.
“Nanti kalau Bu Guru pulang, jangan nangis ya. Hahahaha…”
“Saya mau ikut bu!”
“Ikut ke Jawa? Ngapain Sin?”
“dia mau ketemu Reva bu! Mau ketemu Boy!”
“enak bu, di Jawa ramai! Disini ja sepi!”
“Enggak ni wei! Enggak ni bu! Betul saya mau ikut Bu! Betul! Serius saya ini Bu!”
“Kenapa kamu mau ikut ke Jawa?”
….
“Pasti ada alasannya ya, Bu?”
Setelah beberapa sesi ejek-ejekan dari teman-temannya karena Muksin-mau-ikut-Bu-Guru-ke-Jawa, tiba-tiba ia berkata
“Saya mau ke Jawa karena saya mau sekolah sih Bu. Kalau saya disini, saya pasti op sekolah Bu. Kemarin Bapak bilang, kalau saya sudah selesai SD ini, saya disuruh op sekolah bu. Ndak disuruh saya sekolah lagi. Tapi saya ndak mau bu.”
Aku tak sanggup berkata-kata. Namun dengan wajah datar dan ekspresi (yang sebenarnya dipaksa) tenang, aku menanggapinya.
“Terus kamu bilang nggak sama Bapak, kamu mau terus sekolah?”
“Bilang ni Bu! Tapi bapak diam saja.”
Aku tak sanggup berkata-kata. Lagi.
“Kenapa kamu mau sekolah, Sin? Jadi petani aja ni,” aku menanggapi sambil sedikit mengganggunya.
“Nggak mau Bu, saya kan mau jadi Guru.”
“Kenapa mau jadi Guru?
“Supaya kayak Bu Guru. Supaya bisa membagikan ilmu.”
Aku tak sanggup berkata-kata. Sungguh.
“Makanya Muksin berdoa ya, supaya bisa sekolah di Jawa. Masih berdoa terus kan?”
Nak, kamu pasti bisa sekolah di Jawa, nak.
Kamu pasti bisa sekolah.
Kamu pasti bisa terus merasakan Perjalanan Ke Barat. Perjalanan pulang dari-entah-dimana saat kamu pulang dari kota tempatmu sekolah. Saat kamu pulang dari kota tempatmu kuliah. Saat kamu pulang untuk ‘membagikan ilmu’.
Berdoa ya nak, ya. Insya Allah ada jalan.
Bismillah.
WAHANA EDUKASI BIMA telah selesai! Enam puluh tiga anak-anak brilian telah melihat berbagai hal baru. Enam puluh tiga calon pemimpin bangsa telah saling berjejaring. Enam puluh tiga benak luar biasa telah terisi dengan wawasan-wawasan baru.
Enam puluh tiga anak dari 9 sekolah di sudut-sudut terdalam Kabupaten Bima telah
bersuka-ria. Jalan-jalan melihat Museum ASI Mbojo, membaca di perpustakaan daerah, mengirim surat dari Kantor Pos, Pertama kali melihat pesawat dari Menara AirNav Bandara dan bersalaman bersama Pak Pilot dan Kak Pramugari Garuda Indonesia, hingga belajar mengenai listrik dari PLTD PLN.
Tidak hanya mereka yang bahagia. Sepuluh keluarga asuh juga merasakan bagaimana dua malam bersama anak-anak mutiara terpendam ini. Sepuluh fasilitator dan Sembilan Panitia bersama-sama kami belajar bersama kepolosan anak-anak. Lima belas donatur turut berkesempatan berbuat kebaikan. Delapan instansi menjadi saksi bagaimana sebenarnya anak-anak kita begitu cemerlang.
Saya, dan saya yakin Delapan Pengajar Muda lainnya, masih terus merasakan 'percikan' itu hingga purnama ke-8 kami di Bima. Bagaimana anak-anak dengan hati dan pertanyaan polos nan ajaib, bagaimana teman-teman relawan dan fasilitator dengan semangat-kerja-luar-biasa-tulus yang terus me-refill semangat kami, bagaimana donatur dari jauh yang 'ngotot' ikut terlibat, bagaimana para stakeholder yang terlibat menjadi keluarga angkat menyayangi anak-anak dengan hati.
Tiga hari bekerja bersama semua pihak di Wahana Edukasi Bima, saya sadar kalau masih banyak orang baik di Indonesia.
Kalau anak-anak kita masih punya harapan.
Kalau ada klausa yang melebihi Terima Kasih, saya akan memberikan klausa itu pada semua orang yang terlibat di Wahana Edukasi Bima. Dari para mama angkat yang sudah memasak saat subuh, hingga para donatur yang berkontribusi dari seberang pulau sana.
Dari mereka yang mengirim doa dan harapan, hingga semua orang yang bekerja sampai begadang.
Kasih khusus aku sampaikan pada 9 panitia yang bekerja betul-betul tak kenal lelah, dan 8 saudaraku Pengajar Muda Bima yang benar-benar bekerja seperti sebuah keluarga. Doaku untuk kalian kusampaikan pada Tuhan, meski tak aku tuliskan.
Terima kasih!
Mega Safira
Dari atas bus Bima-Tambora, dalam perjalanan 6 jam menuju Kecamtan Tambora
Foto: Etika Indah Febriani












